Harun Rasyid Lubis, Manuasa Pinem, Mangara Silalahi
Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi
Medan
Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi
Medan
Pendahuluan
Infeksi saluran kemih merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai dalam bidang nefrologi dan urologi. Kass mengemukakan 15 - 20% wanita pasti mngalami peristiwa ini didalam riwayat hidupnya (1). Pengeluaran air seni melalui kateter juga merupakan tindakan yang sering diperlukan untuk menolong penderita. Tata cara yang aseptis merupakan syarat mutlak untuk tindakan ini agar infeksi dapat dicegah. Akan tetapi tata cara yang aseptis inipun ataupun chemopropylaxis tidak dapat sama sekali menghilangkan kemungkinan terjadinya infeksi. Ini sehubungan dengan bentuk anatomis muara urethra yang tidak dapat dicapai antisepticum sehingga cairan yang ada di dalam muara urethra tersebut dapat didorong oleh kateter ke vesica urinaria sehingga urine kandung kemih yang dasarnya steril itu dapat terkontaminasi (2). Instrumentasi saluran kemih pun memberi resiko yang besar untuk menyebabkan terkontaminasinya urine kandung kemih (3). Infeksi urine kandung kemih dapat menimbulkan akibat-akibat lanjutan bahkan sampai mungkin menimbulkan pyelonefritis dan akhirnya kegagalan ginjal (4). Bila infeksi kandung kemih ini adalah symtomatis, tentu penderita ataupun dokternya akan bertindak, akan tetapi sering pula terjadi infeksi asymtomatis sehingga dapat menimbulkan bahaya latent (5).
Infeksi saluran kemih merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai dalam bidang nefrologi dan urologi. Kass mengemukakan 15 - 20% wanita pasti mngalami peristiwa ini didalam riwayat hidupnya (1). Pengeluaran air seni melalui kateter juga merupakan tindakan yang sering diperlukan untuk menolong penderita. Tata cara yang aseptis merupakan syarat mutlak untuk tindakan ini agar infeksi dapat dicegah. Akan tetapi tata cara yang aseptis inipun ataupun chemopropylaxis tidak dapat sama sekali menghilangkan kemungkinan terjadinya infeksi. Ini sehubungan dengan bentuk anatomis muara urethra yang tidak dapat dicapai antisepticum sehingga cairan yang ada di dalam muara urethra tersebut dapat didorong oleh kateter ke vesica urinaria sehingga urine kandung kemih yang dasarnya steril itu dapat terkontaminasi (2). Instrumentasi saluran kemih pun memberi resiko yang besar untuk menyebabkan terkontaminasinya urine kandung kemih (3). Infeksi urine kandung kemih dapat menimbulkan akibat-akibat lanjutan bahkan sampai mungkin menimbulkan pyelonefritis dan akhirnya kegagalan ginjal (4). Bila infeksi kandung kemih ini adalah symtomatis, tentu penderita ataupun dokternya akan bertindak, akan tetapi sering pula terjadi infeksi asymtomatis sehingga dapat menimbulkan bahaya latent (5).
No comments:
Post a Comment