Thursday, 30 December 2010

AMUBIASIS

Definisi
Amubiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa usus. Protozoa tersebut hidup di kolon, menyebabkan radang akut dan kronik yang disebut amubiasis intestinal. Bila tidak diobati amubiasis intestinal akan menjalar ke luar usus dan menyebabkan amubiasis ekstra-intestinal.

Penyebab
Entamoeba histolytica
Gambaran Klinis
- Masa inkubasi rata-rata 2 - 4 minggu.
- Amubiasis kolon akut atau disentri amuba memberikan gejala sindrom disentri yang  merupakan kumpulan gejala yang terdiri atas tinja berlendir dan berdarah, tenesmus anus, nyeri perut dan kadang-kadang disertai demam.
- Pada amubiasis kronik penderita mengeluh nyeri perut dan diare yang diselingi konstipasi.
- Pada amubiasis ekstraintestinalis kadang ditemukan riwayat amubiasis usus.
- Penderita amubiasis hati biasanya demam, hati membesar disertai nyeri tekan abdomen terutama di daerah kanan atas, berkeringat, tidak nafsu makan, berat badan turun dan ikterus.
- Amubiasis kutis dan perinealis menyebabkan ulkus yang tepinya bergaung, sedangkan amubiasis vaginalis menimbulkan leukore dengan bercak darah dan lendir.
Diagnosis
- Amubiasis kolon akut : menemukan E.histolytica bentuk histolitika dalam tinja cair.
- Amubiasis kolon menahun : menemukan E.histolytica bentuk kista dalam tinja. Jika tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulang 3 hari berturut-turut.
Pemeriksaan serologi dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis amubiasis.
- Amubiasis hati: menemukan bentuk histolitika E.histolytica dalam biopsi dinding abses atau aspirasi nanah. Jika tidak ditemukan ameba dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk menunjang diagnosis amubiasis.

Penatalaksanaan
- Metronidazol merupakan obat pilihan untuk amubiasis usus maupun amubiasis ekstraintestinalis.
· Dosis dewasa : 500 – 750mg 3 x sehari selama 7 – 10 hari.
· Dosis anak 1 tahun : 50 mg/kgBB 3 x sehari, selama 7 – 10 hari.
- Amubiasis ekstraintestinalis memerlukan pengobatan yang lebih lama. Oleh karena itu perlu dirujuk.

Pencegahan
- Pencegahan meliputi perbaikan kesehatan lingkungan dan higiene perorangan, desinfeksi sayur dan buah-buahan yang diduga kurang bersih.
- Pengidap kista tidak boleh bekerja di bidang penyiapan makanan dan minuman.

AIDS

Definisi
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairam vagina dan air susu ibu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi.

Penyebab
Adalah virus HIV, suatu jenis retrovirus yang termasuk golongan virus yang menggunakan RNA sebagai molekul pembawa informasi genetik.

Gambaran Klinis
- Kategori klinis A meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimtomatik), limfa denopati generalisata yang menetap dan infeksi akut primer dengan penyakit penyerta.
- Kategori klinis B terdiri atas kondisi dengan gejala pada remaja/dewasa terinfeksi HIV yang tidak termasuk dalam kategori C dan memenuhi paling kurang satu dari beberapa kriteria berikut:
A) Keadaan yang dihubungkan dengan adanya infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan yang diperantarakan sel (Cell mediated immunity) atau
B) Kondisi yang dianggap oleh dokter telah memerlukan penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanaan akibat komplikasi infeksi HIV dengan contoh:
Angiomatosis basilari; Kandidiasis orofaringeal; Kandidiasis vulvovaginal;
Displasia leher rahim; Demam 38,5 OC atau diare lebih dari 1 bulan;
Oral Hairy leukoplakia; Herpes zoster; Purpura idiopatik trombositopenik;
Listeriosis; Penyakit radang panggul; Neuropati perifer
- Kategori klinis C meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDs misalnya:
Kandisiasis bronki, trakea dan paru; Kandidiasis esofagus; Kanker leher rahim invasif; Coccidiodomycosi menyebar atau di paru; Kriptokokosis di luar paru; Retinistis virus sitomegalo; Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV; Herpes simpleks atau ulkus kronik lebih dari sebulan lamanya; Bronkitis, esofagitis atau pneumonia; Histoplasmosis menyebar atau di luar paru; Isosporiasis instestinal kronik lebih dari sebulan lamanya; Sarkoma kaposi; Limfoma burkit (atau istilah lain menunjukkan lesi yang mirip); Limfoma imuno blastik, L.primer di otak; Micobacterium Avium Complex atau M.lansii tersebar di luar paru; M.tuberculosis dimana saja (paru atau luar paru); Pneumonia Pneumocystis carinii; Leukoensefalopati multifokal progresif; Septikemia salmonella yang berulang; Taksoplasmosis di otak.

Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksan darah. Pada pemeriksaan darah dapat dilakukan tes langsung terhadap virus HIV atau secara tidak langsung dengan menentukan anti bodi, yang telah dan lebih mudah dilaksanakan. Saat ini banyak jenis tes yang mempunyai sensitifitas dan spesifitas tinggi yang tersedia.
Pengobatan/Penatalaksanaan
Saat ini ada tiga golongan ARV yang tersedia di Indonesia:
· Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NsRTI): obat ini dikenal sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA. Proses ini diperlukan agar virus dapat bereplikasi. Obat dalam golongan ini termasuk zidovudine (ZDV atau AZT), lamivudine (3TC), didanosine (ddI) zalcitabine (ddC), stavudine (d4T) dan abacavir (ABC).
· Non-Nucleside Reserve Trancriptase Inhibitor (NNsRTI): obat ini berbeda dengan NRTI walaupun juga menghambat proses perubahan RNA menjadi DNA. Obat dalamgolongan ini termasuk nevirapine (NVP), efavirenz (EFV), dan delavirdine (DLV).
· Protease Inhibitor (PI): Obat ini bekerja menghambat enzim protease yang memotong rantai panjang asam animo menjadi protein yang lebihkecil. Obat dalam golonganini termasuk indinavir (IDV), nelfinavir (NFV), saquinavir (SQV), ritonavir (RTV), amprenavir (APV), dan lopinavir/ritonavir (LPV/r).

ABSES GIGI

Definisi
Pengumpulan nanah yang telah menyebar dari sebuah gigi ke jaringan di sekitarnya, nbiasanya berasal dari suatu infeksi.

Penyebab
Abses ini terjadi dari infeksi gigi yang berisi cairan (nanah) dialirkan ke gusi sehingga gusi yang berada di dekat gigi tersebut membengkak.
Gambaran Klinis
- Pada pemeriksaan tampak pembengkakan disekitar gigi yang sakit. Bila abses terdapat di gigi depan atas, pembengkakan dapat sampai ke kelopak mata, sedangkan abses gigi belakang atas menyebabkan bengkak sampai ke pipi. Abses gigi bawah menyebabkan bengkak sampai ke dagu atau telinga dan submaksilaris.
- Penderita kadang demam, kadang tidak dapat membuka mulut lebar.
- Gigi goyah dan sakit saat mengunyah.

Diagnosis
Pembengkakan gusi dengan tanda peradangan di sekitar gigi yang sakit.

Penatalaksanaan
- Pasien dianjurkan berkumur dengan air hangat
- Simtomatik : Parasetamol (bila diperlukan)
Dewasa : 500 mg 3 x sehari,
anak-anak : 250 mg 3 x sehari.
- Jika jelas ada infeksi, dapat diberikan Amoksisilin selama 5 hari
Dewasa : 500 mg 3 x sehari,
anak-anak : 250 mg 3 x sehari.
- Bila ada indikasi, gigi harus dicabut setelah infeksi reda dan rujuk ke dokter gigi.

Tuesday, 28 December 2010

Tetanus

I. PENDAHULUAN
Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat.(5)
Tetanus ini biasanya akut dan menimbulkan paralitik spastik yang disebabkan tetanospasmin. Tetanospamin merupakan neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani.(6,7)
Tetanus disebut juga dengan "Seven day Disease ". Dan pada tahun 1890, diketemukan toksin seperti strichnine, kemudian dikenal dengan tetanospasmin, yang diisolasi dari tanah anaerob yang mengandung bakteri. lmunisasi dengan mengaktivasi derivat tersebut menghasilkan pencegahan dari tetanus. ( Nicalaier 1884, Behring dan Kitasato 1890 ). (14)
Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum ). (1,2,3,9,10,14)
ETIOLOGI
Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif; Cloastridium tetani Bakteri ini berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun, jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. (1)

Rinitis Hipertrofi

Delfitri Munir
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok, Bedah Kepala Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara

Abstrak. Proses infeksi dan iritasi yang kronis akan dapat menyebabkan hipertrofi konka nasalis. Septum deviasi juga dapat menyebabkan penyakit ini secara kontralateral. Gejala utama rinitis hipertrofi adalah hidung tersumbat. Keadaan ini memerlukan tindakan koreksi karena pengobatan dengan medikamentosa saja sering tidak memberi hasil yang memuaskan. Tindakan yang paling ringan seperti kauter sampai pemakaian laser dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan hidung tersumbat akibat hipertrofi konka.
Kata kunci: Hipertrofi konka, conchotomy, turbinoplasty
Etilogi
Penyebab umum konka hipertrofi adalah infeksi hidung berulang, sinusitis kroni, iritasi kronis mukosa hidung karena rokok dan bahan-bahan iritan industri. Penggunaan tetes hidung yang berkepanjangan, rinitis alergi, dan rinitis vasomotor juga dapat menyebabkan penyakit ini. Pada kasus septum deviasi, di mana pada sisi hidung kontralateral dapat terjadi hipertrofi konka inferior dan media yang merupakan mekanisme kompensasi untuk mengurangi luasnya rongga hidung.1,2

Patogenesis
Beberapa faktor yang mempengaruhi membran mukosa hidung antara lain suhu udara, kelembaban dan polusi akan merangsang kelenjar di hidung menjadi hiperaktif. Hal ini juga dapat ditimbulkan oleh rangsangan akibat asap rokok, parfum, bau-bauan yang mengiritasi, dan gangguan vasomotor.3 Akibat rangsangan yang berlangsung lama dan berulang, mukosa konka akan menebal dan terjadi pelebaran pembuluh darah mukosa terutama pleksus kavernosus konka. Lama kelamaan epitel akan kehilangan silia dan berubah

Karakteristik Prognosis Epilepsi

Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RSUD Dr. M. Haulussy
Ambon


Abstrak. Epilepsi merupakan penyakit neurologi dengan permasalahan yang kompleks. Pengetahuan tentang prognosis dan faktor prognosis sangat diperlukan untuk pemberian informasi yang adekuat dan perencanaan tatalaksana yang tepat. Telaah pustaka ini menunjukkan bahwa sebagian besarpasien mencapai remisi 6 bulan, namun hanya kurang l ebih separuh yang dapat mencapai remisi 2 tahun. Angka relaps setelah penghentian pengobatan adalah 18-66%. Faktor prognosis meliputi karakteristik klinik, gambaran abnormalitas EEG, dan kepatuhan terhadap regimen terapi.
Kata kunci: Epilepsi, remisi, relaps, prognosis, kematian

Pendahuluan
Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama. Epilepsi sering dihubungkan dengan disabilitas fisik, disabilitas mental, dan konsekuensi psikososial yang berat bagi penderitanya (pendidikan yang rendah, pengangguran yang tinggi, stigma sosial, rasa rendah diri, kecenderungan tidak menikah bagi penyandangnya). Sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada masa anak-anak.1

Nyeri Punggung Bawah (Low Back Pain): Patofisiologi, Terapi Farmakologi dan Non-Farmakologi Akupunktur

Jan Sudir Purba*, dan Dewi Susilawaty Ng**
* Departemen Neurologi FKUI/RSCM, Jakarta
** Residen Departemen Akupunktur RSCM, Jakarta

Abstrak. Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan nyeri yang ditemukan disekitar punggung bagian bawah yang banyak diderita dan menyebabkan kehilangan kerja, kedua tertinggi setelah sefalgia. NPB bisa berupa nyeri nosiseptif, neuropatik ataupun kombinasi dari keduanya. Nyeri ini bisa diakibatkan oleh kerusakan mekanik, kimia, trauma, neoplasma, iskemik serta proses autoantigen di persendian di daerah lumbosakral. Beberapa penyakit metabolisme dapat juga berperan sebagai etiologi NPB. NPB bisa berupa referred pain yang berasal dari organ visera, retroperitoneal, sistem urogenitalia dan aorta. Secara umum penanggulangan NPB berdasarkan pada terapi simptomatik dan terapi kausal baik dengan farmakologik maupun non farmakologik. Terapi farmakologik dapat menggunakan analgesik baik opioid maupun non-opioid, NSAID, antidepresan, atau antiepilepsi. Terapi non farmakologik seperti terapi akupunktur merupakan pilihan sesuai mekanisme kerja akupunktur. Dari hasil beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa penusukan jarum akupunktur pada titik-titik akupunktur mengakibatkan peningkatan kadar dari berbagai macam neurotransmiter. Neurotransmiter ini berfungsi sebagai analgesik, sedatif serta berperan dalam proses penyembuhan (recovery) dari kerusakan anatomik baik yang menyangkut fungsi motorik maupun sensorik karena neurotransmiter ini juga berfungsi sebagai imunomodulator. Mengingat etiologi NPB yang beragam maka strategi penanggulangan yang maksimum juga dapat didasarkan pada poli terapi farmakologik dan atau non farmakologik antara lain dengan akupunktur.
Kata Kunci : Nyeri punggung bawah, etiopatologi, terapi farmaka, terapi akupunktur

PENDAHULUAN
Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan nyeri yang dirasakan di daerah punggung bagian bawah, bisa berupa nyeri lokal maupun nyeri radikular ataupun berupa nyeri kombinasi. Nyeri punggung bawah merupakan penyebab kedua kehilangan jam kerja sesudah sefalgia. Di Inggris NPB mengakibatkan kehilangan sekitar 100 juta hari kerja pertahun.1 Sementara hasil penelitian tahun 1987 di Swedia yang berpenduduk 4,5 juta ditemukan kehilangan 28 juta hari kerja akibat NPB. Hal ini disebabkan karena 5-10% dari penderita akut akan berkembang menjadi kronik, sementara penderita kronik menghabiskan biaya sekitar 75-90% dari biaya penanggulangan NPB.2 Penelitian yang dilakukan oleh Papageorgiou et al. (1996),3 di Manchester pada populasi 40.501 orang ditemukan sekitar 35-37% penderita NPB pada umur antara 49-59 tahun.

Prothrombin Time dan Internationale Normalized Ratio

Juliani Dewi, Hartojo
Laboratorium Patologi Klinik RSU Dr. Saiful Anwar/FK Universitas Brawijaya Malang

Abstrak. Dengan meningkatnya angka kejadian tromboemboli, semakin meningkat pula penggunaan terapi dengan menggunakan antikoagulan oral (OAC), seperti warfarin sodium–coumadin. Sejumlah orang mendapatkan pengobatan dengan OAC oleh karena menderita atrial fibrilasi, trombosis vena atau arteri secara berulang. Terapi ini terbukti bermanfaat mencegah dan menatalaksana tromboemboli. Sayangnya efek samping yang sering terjadi cukup berbahaya, antara lain perdarahan dan terjadinya tromboemboli, sehingga diperlukan monitoring pengobatan. PT (Prothrombin Time) spesifik dan merupakan satu-satunya pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengukur efektivitas obat antikoagulan oral. Sedangkan INR (Internationale Normalized Ratio) menjadi metode yang digunakan untuk mengukur dan melaporkan PT agar nilainya konsisten antar laboratorium.
Kata kunci: tromboemboli, antikoagulan oral, prothrombin time, internationale normalized ratio

Pendahuluan
Lebih dari 2 juta penduduk Amerika diperkirakan menjalani pengobatan dengan antikoagulan, dengan risiko dan keuntungan yang harus dipertimbangkan secara hati-hati. Pemberian antikoagulan oral (OAC) telah terbukti bermanfaat dalam pencegahan dan penatalaksanaan gangguan tromboemboli. Karena efek samping penggunaan OAC sering terjadi maka kontrol yang optimal harus dilakukan untuk mengevaluasi respon penderita. Efek samping yang sering terjadi adalah perdarahan dan tromboemboli. Efek samping ini sangat erat hubungannya dengan intensitas penggunaan OAC dan berhubungan dengan interval pengobatan. Seorang klinisi harus mengingat beberapa konsep penting dalam pemberian OAC, antara lain: indikasi pengobatan tergantung dari kebutuhan dan dosis OAC harus “patient specific”.1,2


Demam Chikungunya

Eppy
Bagian Penyakit Dalam RS Persahabatan Jakarta

Abstrak.
Demam chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV), yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes. Berbeda dengan demam berdarah dengue, pada demam chikungunya tidak ditemukan adanya perdarahan hebat, syok, maupun kematian. Distribusi geografis penyakit ini meliputi daerah tropis Subsahara Afrika, Asia, serta Amerika Selatan. Manifestasi klinisnya berlangsung antara 3-10 hari, yang ditandai oleh demam, nyeri sendi, nyeri otot, ruam makulopapuler, sakit kepala, rasa lemah, mual, muntah, limfadenopati servikal, dan fotofobia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Penyakit ini bersifat self-limiting, sehingga tidak ada terapi spesifik, hanya suportif dan simtomatik. Sampai sekarang belum ada vaksin ataupun obat khusus untuk penyakit ini. Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan memberantas nyamuk vektornya.

PENDAHULUAN
Sepanjang tahun 2007 hingga awal tahun 2008 ini, selain merebak kasus demam berdarah dengue di sejumlah wilayah Indonesia, masyarakat direpotkan pula dengan ledakan kasus demam chikungunya. Penyebab penyakit ini adalah virus chikungunya (Chikungunya virus/CHIKV), yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang juga menularkan penyakit demam berdarah dengue.1-8
 
Demam chikungunya termasuk penyakit yang ringan. Manifestasi kliniknya menyerupai infeksi virus dengue, namun pada demam chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (syok), maupun kematian.1,5 Akan tetapi karena kejadiannya tersebar luas maka demam chikungunya menimbulkan angka kesakitan dan kerugian ekonomi yang tinggi.1,2
 
Kata chikungunya berasal dari bahasa Swahili (suatu suku bangsa di Afrika), yang berarti (posisi tubuhnya) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi (artralgia) yang hebat.1-8 Nyeri sendi
ini terutama terjadi pada lutut, pergelangan kaki, serta persendian tangan dan kaki.8,9 Tidak ada terapi khusus untuk infeksi virus ini. Penyakit biasanya sembuh sendiri (self-limiting disease), walaupun rasa nyeri dapat bertahan selama berhari-hari sampai berbulanbulan. 5,8
 
Epidemiologi
Distribusi geografis demam chikungunya saat ini meliputi daerah tropis Subsahara Afrika (termasuk Afrika Barat, Tengah dan Selatan), Asia, serta Amerika Selatan.5,8,10 Berbagai wabah demam chikungunya dilaporkan terjadi selama abad ke-20 lalu.5 Infeksi chikungunya juga terdokumentasi secara serologis di Afrika, India, dan Asia Tenggara.1

Laporan Kasus Trombosis Vena Dalam (DVT) Dengan Faktor Risiko Defisiensi AT III, Protein C, Dan Protein S

Ismail Yusuf
PPDS Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM

Abstrak. Trombosis vena dalam adalah terbentuknya sumbatan aliran darah vena kerena trombosis (bekuan darah) di dalam pembuluh darah vena terutama pada vena tungkai bawah yang ditandai dengan tungkai yang membengkak dan nyeri. Dapat pula tanpa gejala bila sumbatan tidak luas dan tidak total. Darah di dalam pembuluh darah dipertahankan agar tetap cair. Sesuai dengan hukum trias Virchow yaitu aliran, komposisi dan dinding pembuluh darah. Bila terganggu salah satu dari trias Virchow akan terjadi pembekuan. Kasus ini adalah contoh trombosis vena dalam yang terjadi karena kelainan komposisi darah berupa defisiensi AT III, protein C, dan protein S. Kasus defisiensi ketiganya merupakan kasus yang jarang.

Pendahuluan
Insiden trombosis vena dalam di AS lebih kurang 159/100.000 atau 398.000 pertahun. Di Jakarta dari laporan 15 kasus trombosis vena dalam ditemukan 4 kasus (26,6%) defisiensi protein C, 3 kasus (20%) defisiensi protein S, dan 1 kasus defisiensi keduanya.1 Menurut data sebelumnya dari 15 kasus trombosis vena tidak ditemukan kasus defisiensi AT III.2

Di Amerika 80-90% kasus trombosis diketahui penyebabnya. Dari penyebab yang diketahui tersebut 50% mempunyai kelainan protein pembekuan darah dan trombosit baik karena kelainan bawaan maupun didapat.1
 
Dalam keadaan normal darah dalam pembuluh darah berbentuk cair. Trombosis vena dalam adalah terbentuknya sumbatan aliran darah vena karena trombosis (bekuan darah) di dalam pembuluh darah vena terutama pada vena tungkai bawah yang ditandai dengan tungkai yang membengkak dan nyeri. Dapat pula tanpa gejala bilasumbatan tidak luas dan tidak total.1,3,6,7,8
 
Patogenesis
Pada dasarnya proses pembentukan trombosis vena, penting diperhatikan 3 faktor yaitu pembuluh darah, statis vena, dan komponen darah. Ketiga faktor ini dikenal dengan trias Virchow.1,3,7,8





Peran Albumin Dalam Penatalaksanaan Sirosis Hepatis

Irsan Hasan, Tities Anggraeni Indra
Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM –Jakarta

Abstrak. Penggunaan albumin dalam beberapa kondisi klinis masih menjadi kontroversi. Kontra terhadap pemakaian albumin timbul akibat uji klinis yang tidak menunjang serta biaya terapi yang tinggi. Dalam penatalaksanaan pasien sirosis hati albumin sering dimanfaatkan karena efek onkotiknya di samping untuk memperbaiki kondisi hipoalbuminemia. Sebagian indikasi telah melalui uji klinis yang memadai, sebagian lagi belum ditunjang data yang cukup kuat. Kata kunci: albumin, sirorsis hati

Pendahuluan
Infus albumin telah dipakai sejak puluhan tahun yang lalu sebagai salah satu pilihan terapi dalam praktek medis. Tujuannya adalah mengatasi kondisi hipoalbuminemia pada berbagai penyakit. Menurunnya kadar albumin dapat menjadi penyebab terjadinya kelainan tetapi lebih banyak merupakan komplikasi penyakit yang diderita sebelumnya. Banyaknya data yang membuktikan bahwa kadar albumin darah berkaitan dengan prognosis membuat para ahli berkeyakinan untuk memperbaiki hipoalbuminemia dengan infus albumin. Contoh yang paling nyata adalah usaha untuk menaikkan kadar albumin pada pasien-pasien gawat atau kondisi pra-bedah. Tetapi penggunaan yang begitu lama tidak melepaskan terapi albumin dari pro dan kontra. Hal ini timbul akibat penelitian yang telah dipublikasi memberikan hasil yang berbeda-beda. Debat ini semakin terpicu lagi semenjak dipublikasikannya meta analisis yang berasal dari The Cochrane Injuries Group Albumin Reviewers pada tahun 1998 yang membuktikan bahwa pemberian albumin justru meningkatkan kematian pada penderita dalam kondisi kritis. Selain itu harga albumin yang relatif mahal menjadi salah satu pertimbangan agar pemberiannya sungguh-sungguh memperhitungkan cost and benefit ratio.1,2

Salah satu penyakit yang banyak berhubungan dengan terapi albumin adalah sirosis hati. Sirosis hati merupakan proses difus pada hati yang ditandai dengan timbulnya fibrosis dan perubahan arsitektur hati normal menjadi nodul dengan struktur abnormal. Penyakit ini menimbulkan berbagai gangguan fungsi hati, salah satunya adalah gangguan sintesis albumin, sehingga terjadi keadaan hipoalbuminemia yang menimbulkan berbagai manifestasi klinis seperti edema tungkai, asites maupun efusi pleura. Pada keadaan dimana kadar albumin dalam plasma menurun, transfusi albumin menjadi salah satu pilihan tatalaksana yang telah dipakai sejak lama. Umumnya indikasi pemberian albumin pada sirosis hati adalah untuk mengurangi pembentukan asites atau untuk memperbaiki fungsi ginjal dan sirkulasi. Sebagian dari indikasi tersebut ditunjang oleh data uji klinis yang memadai, tetapi beberapa hanya berdasarkan pengalaman klinis dan belum pernah dibuktikan lewat penelitian yang sahih. Oleh karenanya penggunaan albumin pada pasien sirosis hati masih mengandung unsur kontroversi. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengulas beberapa indikasi pemberian albumin pada pasien sirosis hati, terutama ditinjau dari bukti-bukti uji klinis yang ada.3,4
 
Albumin
Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 55-60% dari protein serum yang terukur. Albumin terdiri dari rantai polipeptida tunggal dengan berat molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585 asam amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam-asam amino yang mengandung sulfur.
 
Molekul albumin berbentuk elips sehingga bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkatkan viskositas plasma dan terlarut sempurna. Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis, laju degradasi dan distribusi antara kompartemen intravaskular dan ektravaskular. Cadangan total albumin sehat 70 kg) dimana 42% berada di kompartemen plasma dan sisanya dalam kompartemen ektravaskular.5,6
 
Sintesis albumin hanya terjadi di hepar dengan kecepatan pembentukan 12-25 gram/hari. Pada keadaan normal hanya 20-30% hepatosit yang memproduksi albumin. Akan tetapi laju produksi ini bervariasi tergantung keadaan penyakit dan laju nutrisi karena albumin hanya dibentuk pada lingkungan osmotik, hormonal dan nutrisional yang cocok. Tekanan osmotik koloid cairan interstisial yang membasahi hepatosit merupaka regulator sintesis albumin yang penting.5,6



Diagnosis dan Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue

Khie Chen, Herdiman T. Pohan, Robert Sinto
Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Abstrak. Demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Sampai saat ini, infeksi virus Dengue tetap menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia dimasukkan dalam kategori “A” dalam stratifikasi
DBD oleh World Health Organization (WHO) 2001 yang mengindikasikan tingginya angka perawatan rumah sakit dan kematian akibat DBD, khususnya pada anak.1-3 Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan pada tahun 2006 (dibandingkan tahun 2005) terdapat peningkatan jumlah penduduk, provinsi dan kecamatan yang terjangkit penyakit ini, dengan case fatality rate sebesar 1,01% (2007).4-5 Sampai saat ini, belum ada terapi yang spesifik untuk DBD, prinsip utama dalam terapi DBD adalah terapi suportif, yakni pemberian cairan pengganti.6 Dengan memahami patogenesis, perjalanan penyakit, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium, diharapkan penatalaksanaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.

Pendahuluan
Demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Sampai saat ini, infeksi virus Dengue tetap menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Indonesia dimasukkan dalam kategori “A” dalam stratifikasi DBD oleh World Health Organization (WHO) 2001 yang mengindikasikan tingginya angka perawatan rumah sakit dan kematian akibat DBD, khususnya pada anak.1-3 Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan pada tahun 2006 (dibandingkan tahun 2005) terdapat peningkatan jumlah penduduk, provinsi dan kecamatan yang terjangkit penyakit ini, dengan case fatality rate sebesar 1,01% (2007).4-5 Berbagai faktor kependudukan berpengaruh pada peningkatan dan penyebaran kasus DBD, antara lain:
1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi,
2. Urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali,
3. Tidak efektifnya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis, dan
4. Peningkatan sarana transportasi.4
Upaya pengendalian terhadap faktor kependudukan tersebut (terutama kontrol vektor nyamuk) harus terus diupayakan, di samping pemberian terapi yang optimal pada penderita DBD, dengan tujuan menurunkan jumlah kasus dan kematian akibat penyakit ini. Sampai saat ini, belum ada terapi yang spesifik untuk DBD, prinsip utama dalam terapi DBD adalah terapi suportif, yakni pemberian cairan pengganti.6 Dengan memahami patogenesis, perjalanan penyakit, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium, diharapkan penatalaksanaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
 
Definisi
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue serta memenuhi kriteria WHO untukDBD.7 DBD adalah salah satu manifestasi simptomatik dari infeksi virus dengue.







Monday, 27 September 2010

Penanganan Sepsis

Djoko Widodo, Arya Govinda
Subbagian Penyakit Tropik Infeksi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia / RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta

Abstrak
. Sepsis didefinisikan sebagai respons inflamasi sistemik karena infeksi. Respons inflamasi ini terjadi karena invasi mikroorganisme ke dalam jaringan. Angka kejadian sepsis dan komplikasinya saat ini cukup tinggi dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di unit perawatan intensif medik dan bedah. Sepsis dapat disebabkan oleh virus, kuman Gram negatif, kuman Gram positif dan jamur. Saat ini infeksi kuman Gram negatif masih merupakan penyebab utama sepsis tetapi didapatkan peningkatan infeksi kuman Gram positif dan jamur sebagai penyebab sepsis. Pada pemeriksaan mikrobiologi didapatkan tidak semua kuman dapat ditemukan dalam darah atau lokasi dugaan terjadinya infeksi. Patogenesis sepsis saat ini masih belum diketahui secara pasti, mengingat kompleksnya mekanisme melibatkan banyak mediator proinflamasi dan anti inflamasi yang saling berinteraksi satu dengan lain sehingga menyebabkan kerusakan atau disfungsi endotel. Penanganan sepsis saat ini meliputi terapi baku, kontroversial dan terapi masa depan. Terapi baku meliputi oksigenisasi (termasuk bantuan napas), resusitasi cairan (koloid dan kristaloid), eradikasi kuman penyebab (bedah dan antibiotik), vasoaktif, inotropik dan suportif lain seperti koreksi gangguan asam basa, nutrisi, regulasi gula darah, koagulasi intravaskular diseminata dan lainnya. Terapi kontroversial meliputi kortikosteroid dan antiinflamasi nonsteroid. Perkembangan kemajuan bidang kedokteran terutama berkaitan dengan pemahaman patogenesis sepsis menjadi dasar terapi masa depan seperti: antitrombin III, antibodi monoklonal (HA-1A dan E5 murine IgM antibodi), antagonis reseptor interleukin-1, antiTNF dan anti nitric oxide.

Kata kunci: Sepsis

Manajemen Pankreatitis Akut

JB Suharjo B Cahyono
Bagian Penyakit Dalam
RS RK Charitas Palembang

Abstrak. Pankreatitis akut terjadi akibat proses autodigesti jaringan pankreas oleh enzim yang dihasilkan pankreas sendiri. Patogenesis pankreatitis akut sangat kompleks dan multifaktorial. Terjadinya pankreatitis akut diawali karena adanya jejas di sel asini pankreas yang dapat disebabkan oleh karena; obstruksi duktus pankreatikus, stimulasi hormon cholecystokinin (CCK) sehingga akan mengaktivasi enzym pankreas, atau oleh karena iskemia sesaat sehingga dapat meningkatkan degradasi enzim pankreas. Sekitar 80% perjalanan klinis pankreatitis akut bersifat ringan dengan mortalitas 1%, dan sebanyak 10-20% berkembang menjadi pankreatitis akut berat dengan risiko mortalitas 20-50%. Komplikasi pankreatitis akut berat dapat bersifat lokal (abses, nekrotik, pseudocyst) atau bersifat sistemik (gagal organ multipel). Manajemen pankreatitis akut tergantung pada derajat penyakitnya. Pankreatitis akut ringan tidak perlu tindakan operatif, cukup terapi konservatif dan tidak perlu antibiotika. Sementara itu manajemen pankreatitis akut berat bersifat interdisipliner yang melibatkan intencivist, radiologist, endoscopist dan dokter bedah, dan memerlukan perawatan khusus, bila perlu di ICU, mengingat risiko terjadinya gagal organ multipel pada minggu pertama perjalanan penyakit. Terapi suportif, nutrisi enteral dan pemberian antibiotika profilaktik pada pankreatitis nekrosis akut dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Pada saat ini terapi pankreatitis akut berat telah bergeser dari tindakan pembedahan awal ke perawatan intensif agresif. Seiring dengan kemajuan di bidang radiologi dan endoskopi, intervensi tindakan bedah dapat diminimalisasi. Tindakan bedah diindikasikan apabila ada pankreatitis nekrosis akut terinfeksi.

Kata kunci: Pankreatitis akut

Interaksi antara Antimikroba dengan Sistem Fagosit Neutrofil dan Monosit/Makrofag

I Made J
Staf Pengajar
Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Unversitas Udayana
Denpasar

Abstrak. Keefektifan suatu antimikroba dalam pengobatan penyakit infeksi tergantung dari interaksi antara bakteri, obat antimikroba dan sistem fagosit dalam tubuh. Beberapa antimikroba dilaporkan dapat menimbulkan modifikasi terhadap sistem imunitas tubuh baik secara in vitro maupun secara in vivo. Obat antimikroba akan mempengaruhi interaksi antara neutrofil dengan mikroba melalui berbagai cara, dan begitu juga sebaliknya neutrofil dapat mengganggu aktivitas antimikroba dalam tubuh. Kebanyakan antimikroba golongan 􀁅-laktam dan quinolone memiliki efek sinergis dengan sistem fagosit dalam menghancurkan kuman di dalam sel neutrofil, oleh karenanya obat tersebut disebut obat yang bersifat imunostimulator. Sebaliknya beberapa antimikroba seperti cyclins, chloramphenicol, sulfonamid dan trimethoprim dapat menekan fungsi imunitas tubuh. Beberapa antimikroba memiliki efek yang meragukan terhadap sistem imunitas.

Kata Kunci: Antimikroba, neutrofil, monosit/makrofag

Pendahuluan
Sistem imun tubuh sangat penting dalam menentukan derajat kesehatan seseorang. Menurunnya fungsi sistem tersebut akan memudahkan terjadinya penyakit infeksi dengan berbagai komplikasi. Sistem imun tubuh tersebut terdiri dari imunitas selular dan imunitas humoral. Neutrofil dan monosit/makrofag adalah bagian dari imunitas selular yang merupakan komponen utama dari sistem imun.1 Neutrofil dan monosit/makrofag sangat penting dalam proses fagosit sehingga sebagian besar kuman yang menginvasi tubuh dapat dibinasakan. Oleh karena itu, neutrofil dan monosit/makrofag disebut juga sistem fagosit yang penting dalam tubuh. Namun demikian, pada zaman sebelum ditemukan antimikroba, dengan mengandalkan sistem fagosit seperti neutrofil dan monosit/makrofag, ternyata banyak penyakit infeksi yang sulit diatasi sehingga penyakit infeksi merupakan masalah besar, pada masa tersebut.2 Dengan ditemukannya berbagai jenis antimikroba, penanganan penyakit infeksi nampaknya menjadi semakin mudah.

Hepatitis Virus

Tantur Syahdrajat
Dokter Klinik MER-C (Medical Emergancy Rescue Community)
Jakarta

Abstrak. Hepatitis adalah suatu keadaan peradangan jaringan hati, yang dapat disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Salah satu gejala yang dapat terlihat pada pasien hepatitis adalah kulit dan sklera mata menjadi berwarna kuning (ikterus). Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Virus tersebut dapat menyebabkan keadaan
hepatitis akut dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari tanpa gejala sampai gejala yang paling berat, bahkan kematian. Hepatitis A dan E tidak menyebabkan kronisitas, sebaliknya hepatitis B, C, D dapat menimbulkan keadaan infeksi yang menetap yang akan menjadi hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati.1

Kata kunci: Hepatitis virus

Pendahuluan
Hepatitis adalah suatu keadaan peradangan jaringan hati, yang dapat disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Salah satu gejala yang dapat terlihat pada pasien hepatitis adalah kulit dan sklera mata menjadi berwarna kuning (ikterus). Ikterus ialah suatu keadaan di mana plasma, kulit, dan selaput lendir menjadi kuning yang diakibatkan pewarnaan berlebihan oleh pigmen empedu (bilirubin). Ikterus epidemik pertama dilaporkan oleh Hippocrates. Dalam Perang Dunia ke-2 telah dilaporkan berbagai epidemi ikterus, terutama yang terjadi di Timur Tengah dan Italia.1

Hepatitis B

Nurul Akbar
Divisi Hepatologi
Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI/RSCM

Abstrak. Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Hepatitis B hampir 100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan virus HIV. Apabila seseorang terinfeksi dengan virus ini maka gejalanya dapat sangat ringan sampai berat sekali. Pada orang dewasa dengan infeksi akut biasanya jelas dan akan sembuh sempurna pada sebagian besar (90%) pasien. Akan tetapi pada anak-anak terutama balita, sebagian besar dari mereka penyakitnya akan berlanjut menjadi menahun. Pencegahan dan pengobatan yang tepat dan segera akan dapat memperbaiki penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi.

Kata kunci: Hepatitis B, pencegahan, pengobatan

Pendahuluan
Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati, masuk melalui darah ataupun cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti halnya virus HIV. Hepatitis B hampir 100 kali lebih infeksius dibandingkan dengan virus HIV. Virus ini tersebar luas di seluruh dunia dengan angka kejadian yang berbeda-beda. Angka kejadian di Indonesia mencapai 4%-30% pada orang normal, sedangkan pada penyakit hati menahun dapat ditemukan angka kejadian 20%-40%. Apabila seseorang terinfeksi dengan virus ini maka gejalanya dapat sangat ringan sampai berat sekali. Pada orang dewasa dengan infeksi akut biasanya jelas dan akan sembuh sempurna pada sebagian besar (90%) pasien. Akan tetapi pada anak-anak terutama balita, sebagian besar dari mereka penyakitnya akan berlanjut menjadi menahun.

Sunday, 26 September 2010

Cairan Hemodialisis

Manusia normal memiliki dua buah ginjal walaupun kadangkadang terdapat orang yang dilahirkan hanya dengan satu ginjal saja, tetapi mereka dapat hidup normal pula. Selain menghasilkan urin, ginjal memiliki banyak fungsi, yaitu :
• Mengeluarkan kelebihan air dari tubuh dalam bentuk urin
• Mengeluarkan produk-produk sisa dari dalam tubuh
• Ikut berperanan dalam pembentukan darah
• Membantu mempertahankan integritas tulang
• Memegang peranan penting untuk mempertahankan tekanan darah normal.
Walaupun demikian, seseorang dapat mengalami gagal ginjal, di mana kedua ginjal orang tersebut tidak dapat melakukan fungsinya oleh karena suatu proses penyakit. Pada umumnya seseorang mulai merasa sakit dan memerlukan cuci darah (dialisis) apabila fungsi ginjalnya telah turun sampai sekitar 5% dari keadaan normal. Gagal ginjal dapat timbul tiba-tiba (akut) ataupun perlahan-lahan (kronis). Pada umumnya gagal ginjal akut bersifat sementara dan reversibel, sedangkan gagal ginjal kronis bersifat permanen. Banyak macam penyakit yang dapat mengakibatkan gagal ginjal, tetapi akibat akhirnya pada umumnya sama, yaitu :

Imunisasi Campak dan Beberapa Permasalahannya

Djoko Yuwono
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta

PENDAHULUAN
Imunisasi campak di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1982/1983 dalam rangka program Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Imunisasi campak di Indonesia dipandang
perlu dilaksanakan di dalam suatu program, karena hasil penelitian telah membuktikan bahwa angka kesakitan dan kematian akibat penyakit campak di Indonesia mencapai 10% – 26%1,2,3. Berpedoman pada hasil penelitian tersebut dan adanya laporan dari berbagai propinsi mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak, maka Departemen Kesehatan RI menetapkan untuk melaksanakan imunisasi campak dalam program PPI. Imunisasi campak di Indonesia dianjurkan untuk diberikan pada anak-anak sejak umur 9–14 bulan, tanpa imunisasi ulangan. Alasannya adalah bahwa pada umur tersebut merupakan umur anak yang paling rentan terhadap infeksi virus campak, dan pada umur tersebut kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu sudah tidak ditemukan lagi. di dalam tubuh anak. Adapun jenis vaksin yang dipergunakan adalah further five attenuated measles vaccine strain Schwarz, yang dikultur pada biakan sel fibroblast embryo ayam4. Sampai saat ini pelaksanaan imunisasi campak di Indonesia pada akhir Pelita IV ditargetkan mencapai cakupan imunisasi sebesar 65%, dengan kemampuan yang tersedia pada saat ini cakupannya
telah mencapai 45%, dan diharapkan pada akhir Pelita IV nanti target yang telah ditentukan akan dapat tercapai5.

Pengobatan Epilepsia dengan Karbamazepin

Dr. Tanumihardja
Surabaya

PENDAHULUAN
Di antara berbagai antikonvulsan yang kini beredar di pasaran, salah satu jenis di antaranya ialah Carbamazepine atau 5-Carbamoxyl-5-H-dibenz (b, f) azepine (= Tegretol, Geigy)1. Carbamazepine dikatakan efektif untuk mengendalikan serangan epilepsi dari segala jenis, kecuali petit mal. Carbamazepine juga dikatakan efektif untuk mengatasi gejala psikik yang menyertai epilepsi tanpa menimbulkan sedasi yang menyolok.
Berhubung hampir semua antikonvulsan yang beredar di pasaran dewasa ini memiliki sedikit efek sedasi, yang membuat penderita epilepsi sering tidak dapat melanjutkan studi atau sering diberhentikan dad pekerjaan mereka. Di samping itu, banyak penderita epilepsi sering memperlihatkan kelainan tingkah laku yang hingga kini masih belum berhasil diatasi dengan baik, meskipun dengan berbagai pengobatan gabungan.
Dengan terdapatnya sejenis obat antikonvulsan yang dikatakan efektif untuk mengendalikan serangan dan sekaligus dapat menghilangkan gejala psikik yang menyertai epilepsi tanpa menimbulkan sedasi, akan mcmudahkan pengobatan epilepsi dan juga tidak akan mengganggu kegiatan penderita sehari-hari.
Tujuan penulisan makalah ini ialah untuk menilai efek Carbamazepine pada penderita epilepsi dan efek samping obat tersebut.

Terapi Artritis dengan Yttrium - 90

Dr. Sugiyono*
Bagian Kedokteran Nuklir, PSPKR BATAN, Jakarta

Radang kronis pada sendi lutut (Synovitis chronica) yangdisebabkan oleh Rematoid artritis dan Osteoartrosis biasanya sukar pengobatannya. Pengobatan klasik yaitu dengan medikamentosa, termasuk di sini pemberian kortikosteroid secara intra artikuler, pada batas-batas tertentu pengobatan tersebut masih dapat berefek dengan baik. Apabila dengan medikamentosa tidak mempan lagi, maka sinofektomi merupakan alternatif pilihan.
Sampai saat ini ada 3 cara untuk melakukan sinofektomi yaitu: 1) operatif 2) pemberian bahan kimia secara intra artikuler dan 3) pemberian radionuklida secara intra artikuler.
Operatif biasanya dilakukan pada radang sendi yang ringan. Pemberian bahan kimia secara intra artikuler, misalnya dengan injeksi asam osmat (osmic acid) sudah banyak ditinggalkan oleh pusat-pusat kedokteran nuklir karena efek samping yang cukup serius. Efek samping tersebut berupa kerusakan jaringan sinovia yang hebat dan berakibat rusaknya susunan sendi lutut.

Sklerema Neonatorum

Dr Nurdin Badollah dan Dr Nassir Abbas
I,aboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin/RSU Ujung Pandang,
Ujung Pandang

PENDAHULUAN
Sklerema neonatorum (SN) ialah suatu penyakit akut dengan pengerasan jaringan lemak di bawah kulit. Kelainan ini yang tidak jarang dijumpai pada neonatus, biasanya menyertai suatu penyakit berat seperti prematuritas, diare dehidrasi, bronkopneumoni dan sepsis1,2,3
SN pertama kali dilaporkan dalam tahun 1722 oleh 'Uzenbenzius, tetapi baru tahun 1784 gejala-gejala klinik yang lebih lengkap dilaporkan oleh Underwood sehingga SN disebut pula
"Underwood's disease".
Sebelum pemakaian antibiotika dan kortikosteroid, Hughes & Hammond (1948) mencatat angka kematian SN, 75%. Erwin Sarwono dkk (1970) inengemukakan bahwa transfusi darah segar, memberikan hasil yang lebih baik, angka kematian menjadi 60,7% bila dibandingkan dengan kasus-kasus tanpa transfusi4. Sumampouw dkk5 melaporkan mortalitas SN secara keseluruhan 60%, pada kelompok transfusi hanya 20% dan yang tidak diberikan darah 80%.
Tulisan ini membahas secara singkat beberapa aspek SN.
 
PATOGENESIS

Pemeliharaan Pendengaran di Industri

Dr. M.S. Wiyadi
Litb./U.P.F. Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

PENDAHULUAN
Pada tempat-tempat industri, sesuatu yang mengancam pendengaran manusia ialah suara bising yang ditimbulkan oleh suara mesin pabrik atau suara-suara lain yang ditimbulkan oleh
pekerjaan-pekerjaan pada industri tersebut.
Suara bising akan menimbulkan gangguan pendengaran atau ketulian pada seseorang yang bekerja atau berada di lingkungan industri. Istilah-istilah occupational deafness, industrial deafness, noise induced hearing loss, trauma akustik, adalah istilah-istilah untuk menggambarkan ketulian akibat suara bising. Bila suara bising menyebabkan ketulian pada anggota militer, disebut military deafness.
Ketulian ini sifatnya neuro-sensorik dan ireversibel. Untungnya ketulian ini bisa dicegah, dengan cara penanggulangan bising di industri yang pada hakekatnya adalah pemeliharaan pendengaran di industri. Pemeliharaan pendengaran di industri ditujukan untuk mencegah terjadinya ketulian bagi pekerjapekerja yang masih normal telinganya dan mencegah agar tak jadi lebih jelek pada pekerja-pekerja yang sudah terdapat kekurang pendengaran.
Maksud dari tulisan ini untuk membicarakan akibat kebisingan pada manusia, terutama pada telinganya, dan caracara menanggulangi kebisingan agar tidak merusak pendengaran para pekerja di lingkungan industri.

Hipertensi dengan Kehamilan

Dr. Jose Roesme, Dr. Endang Susalit, Dr. Suhardjono, Dr. Pudji Rahardjo
Subbagian Ginjal-Hipertensi, Bagian Ilmu Penyakit Da/arn
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Ciptomangunkusumo, Jakarta

Berdasarkan pengalaman klinik dalam penanggulangan hipertensi dengan kehamilan di Indonesia dengan penyesuaian terhadap lingkungan dan fasilitas yang tersedia bagi sebagian besar dokter di Indonesia, dirasakan perlu adanya suatu upaya klasifikasi baru mengenai hipertensi dengan kehamilan. Tujuan klasifikasi baru ini adalah untuk mempermudah diagnostik dengan memberikan beberapa tolok ukur klinik dan untuk menyeragamkan catatan medik agar dapat membantu epidemiologi dan penanggulangan hipertensi dengan kehamilan dimasa depan.
Dalam Kongres Internasional Society of Hypertension in Pregnancy' , diusulkan suatu kiasifikasi klinis yang dirasakan cocok untuk negara kita. Makalah ini berusaha menyebarluaskan klasifikasi baru ini untuk mendapatkan umpan balik dari pembaca.
 
BEBERAPA TOLOK UKUR KLINIS

Hipertensis Pada Diabetes Melitus

Dr. Wiguno P, Dr. M.S. Markum, Dr. Roemiati 0, Dr. R.P. Sidabutar
Sub Bagian Gin/al dan Hipertensi Bagian Ilmu Penvakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Ciptomangunkusumo, Jakarta

Diabetes melitus dan hipertensi adalah dua keadaan yang berhubungan erat dan keduanya  merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapatkan penanganan yang seksama. Insidensi hipertensi pada penderita diabetes melitus lebih tinggi apabila dibandingkan dengan penderita tanpa diabetes melitus, dan pada beberapa penelitian dibuktikan, kenaikan tersebut sesuai dengan kenaikan umur dan lama diabetes. Diperkirakan 30–60% penderita diabetes melitus mempunyai hubungan dengan hipertensi1,2,3.
Hipertensi pada diabetes melitus meningkatkan morbiditas dan mortalitas, serta berperan dalam mekanisme terjadinya penyakit jantung koroner, gangguan pembuluh darah perifer, gangguan pembuluh darah serebral dan terjadinya gagal ginjal. Kelainan pada mata akibat diabetes melitus yang berupa retinopati diabetik juga dipengaruhi oleh hipertensi..Oleh karena itu, hipertensi pada diabetes melitus perlu ditanggulangi secara seksama. Untuk tujuan ini diperlukan pengetahuan mengenai patogenesis hipertensi pada diabetes melitus, dan berbagai obat anti-hipertensi serta pengaruhnya terhadap diabetes melitus.
 
PATOGENESIS1,3,4
Hipertensi pada diabetes melitus dapat dilihat dalam beberapa bentuk, yaitu1:

Nefropati Imunoglobulin A

Dr. M.S. Markum, Dr. Suhardjono, Dr. Endang Susalit, Dr. Jose Roesma
Subbagian Ginjal-Hipertensi, Raglan Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RS Ciptomangunkusumo, Jakarta

Di kawasan ASEAN, Singapura-lah yang pertama-tama melakukan penelitian yang meluas terhadap nefropati IgA, yaitu sejak ditemukannya kasus pertama pada tahun 1973. Pada tahun 1974, yaitu pada First Colloquim in Nephrology, Sinniah et al. mempresentasikan hal ini dengan lebih lengkap.l
Perhatian terhadap nefropati IgA dicetuskan oleh Berger dan Hinglais pada tahun 1968. Mula-mula para peneliti kurang menaruh minat terhadap publikasi ini, tetapi kemudian makalah mengenai nefropati ini meningkat sekali jumlahnya. Misalnya pada seminar mengenai glomerulonefritis di Australia pada tahun 1972, telah diberikan perhatian khusus untuk nefropati IgA, tetapi masih bersifat inventarisasi masalah; belum nyata ke mana arah penelitian lebih lanjut harus di lakukan.2 Dalam Kongres Nefrologi Asia-Pasifik di Tokyo pada tahun 1979, pembahasan tentang penyakit ini sudah lebih mendalam. Peranan IgA polimer, peranan antigen, peranan OKT4 dan OKT8 dalam patogenesis nefropati IgA mulai diteliti3.Selanjutnya akhir-akhir ini pembahasan tentang nefropati IgA hampir selalu muncul pada tiap majalah nefrologi.

Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih (Suatu Rangkuman Seminar)

RP Sidabutar
Subbag Ginjal & Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
FKUI – RSCM
Jakarta

Usaha untuk menyelenggarakan seminar Penyakit Ginjaldan Saluran Kencing ini patut dihargai, karena pada seminar ini dihimpun para akhli dari Indonesia dan seorang akhli dari negara tetangga, yang mengemukakan kemajuan-kemajuan mutakhir serta data-data regional, nasional dan lokal. Pada seminar ini kita mendapat kesempatan untuk menilai sampai dimana kemajuan kita di Indonesia, dibandingkan dengan kemajuan Intemasional dan membandingkan data-data Internasional dengan keadaan faktual di Indonesia.
Judul-judul yang dikemukakan, terpilih, dikemukakan secara menarik, dengan gaya masing-masing pembicara yang tersendiri.
Digambarkan usaha untuk :

Forced Diuresis pada Keracunan

Iwan Darmansyah
Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta

Forced diuresis atau diuresis paksa adalah tindakan untuk mengatasi keracunan dengan jalan mempercepat ekskresi obat melalui urine. Tindakan ini bukan satu-satunya dan bersama dengan dialisis peritoneal, hemodialisis, "exchange transfusion" dan hemoperfusi merupakan salah satu cara untuk mengeluarkan racun lebih cepat dari tubuh.
Walaupun forced diuresis merupakan tehnik yang baik untuk mengatasi keracunan, metode ini tidak dapat diterapkan begitu saja pada tiap kasus. Juga karena mudahnya prosedur memasang IVFD, maka forced diuresis terlalu sering dan mudah digunakan untuk keadaan yang jelas tidak membawa manfaat dan kadang-kadang malah dapat membahayakan jiwa penderita. Mengerjakan forced diuresis pada seorang penderita keracunan memerlukan pertimbangan "benefitrisk" yang seksama. Perlu dipertimbangkan apakah tindakan ini akan memperbesar ekskresi obat dan mempercepat pulihnya kesadaran atau bukankah penyembuhan akan terjadi dengan cepat dan alamiah tanpa forced diuresis? Penilaian keberhasilan forced diuresis harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena "controlled studies" sulit dilaksanakan berhubung penyembuhan penderita ditentukan oleh faktor penentu yang sangat variabel.

Gangguan Pancaran Saluran Air Kemih

Buchari Kasim
Bagian Bedah
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi,
Medan

PENDAHULUAN
Perjalanan terakhir air kemih akan dipancarkan ke dunia luar melalui meatus di bagian distal urethra. Walaupun seluruh sistem saluran air kemih sudah baik, namun jika pancaran ke dunia luar ini terganggu, akan menimbulkan penyakit yang memberi keluhan kepada penderita. Keluhan di sini lebih banyak terganggu kenikmatan hidupnya tanpa secara langsung membahayakan kelangsungan hidupnya sendiri.
Gangguan kenikmatan hidup ini akan bertambah mengingat keunikan anatomi dari saluran air kemih bagian distal baik pada jenis kelamin pria atau wanita. Pada pria saluran terakhir air mani sedangkan pada wanita letak saluran air kemih bagian distal bertetangga sangat erat dengan saluran perkelaminan.

Uretritis - Non Gonore

Namyo O. Hutapea.
Sub Bagian STD & Mikologi Bagian Rmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi
Medan.

PENDAHULUAN
Berpuluh tahun sebelumnya dikenal hanya satu penyakit infeksi yang menyerang saluran alat genital serta yang disebabkan oleh gonokokkus sehingga pada waktu dahulu tidak dapat dibedakan apakah Uretritis yang timbul disebabkan oleh infeksi gonokokkus atau non gonokokkus. Dengan penemuan berbagai antibiotika temyata kemudian bahwa uretritis dapat disebabkan infeksi oleh gonokokkus dan non gonokokkus oleh sebab terbukti berbeda hasil pengobatan oleh dua jenis antibiotika terhadap uretritis yang disebabkan kedua golongan tersebut. Akibatnya selama bertahun dikenal dengan sebutan infeksi oleh gonokokkus (= Uretritis gonore) dan infeksi oleh non-gonokokkus (= Uretritis non gonore) (10).
Uretritis Non Spesifik termasuk ke dalam golongan Uretritis Non-Gonore. Sebenarnya penggunaan istilah Uretritis Non-Spesifik tidak begitu tepat oleh sebab dengan kemajuan teknik pemeriksaan laboratorium pada saat ini telah mulai dapat ditentukan Organisme yang patogen yang spesifik pada sebagian Uretritis Non-gonore.

Horseshoe Kidney

Achmad Effendi *, Jacobus Tarigan *, Harun Rasyid Lubis. **
* Bagian Anatomi dan ** Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran USU/ RS.Dr. Pirngadi
Medan.

PENDAHULUAN
Suatu bentuk anomali pada ginjal, horseshoe kidney, ialah penggabungan kedua ginjal kanan dan kiri oleh bagian yang disebut isthmus, melalui kedua pole (extremitas) atas atau bawah. Yang terbanyak penyatuan kedua pole bawah, sedangkan kedua pole atas hanya sekitar 5 — 10% (3). Besamya isthmus sangat bervariasi, kadang-kadang merupakan bagian yang lengkap terdiri dari jaringan ginjal (parenchymatous tissue), tetapi pada beberapa kasus, hanya merupakan bagian kecil yang terdiri dari jaringan ikat (fibrous tissue) (1). Dari hasil autopsi, anomali ini tidak jarang dijumpai, meliputi 1 : 600 sampai 1 : 800 dari seluruh kasus (3).
Letak kedua ginjal relatip lebih berdekatan dan lebih rendah dari biasa, 40% diantaranya mencapai ketinggian normal (3). Kedua ginjal biasanya terdapat pada sisi yang berlainan, di kanan kiri columna vertebralis, bisa juga keduanya terletak pada satu sisi, dalam hal ini salah satu di antara kedua ginjal tersebut terletak di atas lainnya (2).

Pengelolaan pada Ruda Paksa Traktus Urogenitalis

Talib Bobsaid
Seksi Urologi Bagian llmu Bedah
Fakultas Kedokteran UNAIR / RS Dr. Soetomo
Surabaya.

PENDAHULUAN
Dengan makin meningkatnya mekanisasi dalam pelbagai bidang industri, makin padatnya arus lalu lintas dengan pelbagai bentuk kendaraan dan makin meningkatnya kontak badan dalam pelbagai jenis olah raga maka insiden ruda paksa pada organ traktus urogenitalis makin meningkat pula.
Semua bentuk ruda paksa yang memberikan hematuria yang mikro maupun makro serta perdarahan melalui urethra hendaknya diteruskan dengan pemeriksaan yang lebih teliti dan terarah berupa pembuatan intra venus pyelogram dan cystourethrogram. Terbatasnya sarana pemeriksaan ini di daerah tidaklah berarti kita mengurangi kewaspadaan akan ruda paksa pada organ ini, lebih-lebih bila didapatkannya tanpa ruda paksa, baik berupa hematoma, adanya massa, rasa nyeri serta tanda-tanda seperti yang kami sebutkan di atas tadi. Tidak terdapatnya hematuria tidaklah dapat diartikan bahwa tidak ada kerusakan organ-organ traktus urogenital akibat ruda paksa. Seperti kita ketahui bahwa kerusakan organ-organ traktus urogenital tidak berdiri sendiri, melainkan menyertai ruda paksa dari organ lain seperti organ intra-abdominal, maka tidak jarang penderita datang di tempat kita dalam keadaan yang gawat, umpama shock. Dalam hal yang demikian tentunya semua pemeriksaan Radiologi ditangguhkan sampai keadaan gawat penderita dapat diatasi.

Diagnosa Tumor Prostat dengan Biopsi Aspirasi Transrektal

Gani Tambunan
Bagian Patologi Anatomik
Fakultas Kedokteran USU
Medan.

PENDAHULUAN
Diagnosa dini karsinoma prostat sulit ditentukan oleh karena pada stadium permulaan gejala klinik sangat minimal ataupun asimptomatik. Palpasi rektum secara rutin pada usia di atas 40 tahun dianjurkan untuk membantu menemukan karsinoma prostat sedini mungkin. Pembesaran prostat terutama adanya nodul di bagian posterior merupakan pertanda kemungkinan karsinoma prostat. Akan tetapi Jewett mengemukakan bahwa akurasi diagnostik palpasi prostat hanya mencapai 50 persen (1, 2, 10).

Diagnosa Tumor Prostat dengan Biopsi Aspirasi Transrektal

Gani Tambunan
Bagian Patologi Anatomik
Fakultas Kedokteran USU
Medan.

PENDAHULUAN
Diagnosa dini karsinoma prostat sulit ditentukan oleh karena pada stadium permulaan gejala klinik sangat minimal ataupun asimptomatik. Palpasi rektum secara rutin pada usia di atas 40 tahun dianjurkan untuk membantu menemukan karsinoma prostat sedini mungkin. Pembesaran prostat terutama adanya nodul di bagian posterior merupakan pertanda kemungkinan karsinoma prostat. Akan tetapi Jewett mengemukakan bahwa akurasi diagnostik palpasi prostat hanya mencapai 50 persen (1, 2, 10).
Untuk mempertinggi akurasi diagnostik karsinoma prostat oleh beberapa penulis dilaporkan hasil penelitian dengan mempergunakan metode tertentu antara lain : pemeriksaan sitologi sekresi prostat (Pap's smear), biopsi perineal ataupun transrektal dengan mempergunakan jarum Silverman dan biopsi aspirasi perineal ataupun transrektal dengan mempergunakan jarum halus.

Uropati Obstruktif

Menam Ginting
Bagian llmu Bedah
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi
Medan.

Saluran air kemih adalah sesusunan alat tubuh yang berperan untuk membentuk dan menyalurkan air kemih, terdiri dari ginjal, piala, ureter, kandung kemih dan uretra. Air kemih adalah cairan hasil produksi ginjal dari darah, mengandung bahan sisa hasil pertukaran zat yang larut di dalam air untuk dibuang keluar dari tubuh. Kaitan lintasan dan gerak alir air kemih sebagai berikut :

Gangguan Miksi pada Hipertrofi Prostat

Basuki Chitra, Usul Sinaga, Jusuf Wibisono
Bagian Ilmu Bedah
Fakultas KedokteranUSU/ RS.Dr. Pirngadi,
Medan

PENDAHULUAN
Gangguan miksi merupakan keluhan yang sangat mengganggu penderita. Pada penderita laki-laki usia tua diatas 50 tahun umumnya yang menyebabkan gangguan miksi adalah hipertrofi prostat. Menurut Blandy pada hakekatnya semua pria yang sehat yang berusia diatas 40 tahun cenderung untuk menderita hipertrofi prostat, dan hanya kira-kira 10% dari mereka ini yang akan menampilkan gejala-gejala hipertrofi prostat, disertai dengan gangguan-gangguan miksi kelak di kemudian hari. (1).
Selanjutnya dikatakan bahwa tidak ada satu suku bangsapun didunia ini yang kebal terhadap penyakit ini, hanya berbeda di dalam jumlah persentase saja. (1) Menurut Brows dkk suku bangsa Negro tercatat dalam persentase kecil, dan penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui. Ketidakseimbangan antara hormon estrogen — androgen dalam darah mungkin memegang peranan penting pada proses terjadinya hipertrofi prostat. (4)

Manifestasi Klinis Prostatitis

Ashar Tanjung, Alwinsyah Abidin, Harun Rasjid Lubis
Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran USU / RS Dr. Pimgadi
Medan

PENDAHULUAN
Prostat adalah merupakan suatu organ, dijumpai pada pria berbentuk buah berangan (chest nut) terdiri dari dua bagian yaitu otot dan kelenjar, mengelilingi permukaan urethra dan mengeluarkan cairan berbentuk susu yang merupakan bagian semen untuk membawa sel sperma kepada wanita waktu sanggama. Bila organ ini mengalami inflamasi atau infeksi maka timbullah prostatitis. 
Dalam klinik prostatitis ini tidak jarang dijumpai baik disebabkan non-bakterial (prostatosis) atau oleh bakteri sendiri yang bersifat akut atau kronis. Menurut hasil penyelidikan kuman penyebab bakterial prostatitis tidak berbeda dalam tipe dan prevalensinya dengan kumam penyebab infeksi saluran kemih (ISK)(2). Patogenese timbulnya bakterial prostatitis sampai sekarang belum jelas diketahui, tetapi dugaan bisa berasal dari urethra yang terinfeksi, reflux dari urine yang terinfeksi ke dalam saluran prostat, invasi bakteri usus secara langsung atau secara limfogen dan akibat infeksi secara hematogen (3).

Infeksi Saluran Kemih Pasca Kateterisasi

Harun Rasyid Lubis, Manuasa Pinem, Mangara Silalahi
Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran USU/ RS Dr. Pirngadi
Medan

Pendahuluan
Infeksi saluran kemih merupakan kejadian yang sangat sering dijumpai dalam bidang nefrologi dan urologi. Kass mengemukakan 15 - 20% wanita pasti mngalami peristiwa ini didalam riwayat hidupnya (1). Pengeluaran air seni melalui kateter juga merupakan tindakan yang sering diperlukan untuk menolong penderita. Tata cara yang aseptis merupakan syarat mutlak untuk tindakan ini agar infeksi dapat dicegah. Akan tetapi tata cara yang aseptis inipun ataupun chemopropylaxis tidak dapat sama sekali menghilangkan kemungkinan terjadinya infeksi. Ini sehubungan dengan bentuk anatomis muara urethra yang tidak dapat dicapai antisepticum sehingga cairan yang ada di dalam muara urethra tersebut dapat didorong oleh kateter ke vesica urinaria sehingga urine kandung kemih yang dasarnya steril itu dapat terkontaminasi (2). Instrumentasi saluran kemih pun memberi resiko yang besar untuk menyebabkan terkontaminasinya urine kandung kemih (3). Infeksi urine kandung kemih dapat menimbulkan akibat-akibat lanjutan bahkan sampai mungkin menimbulkan pyelonefritis dan akhirnya kegagalan ginjal (4). Bila infeksi kandung kemih ini adalah symtomatis, tentu penderita ataupun dokternya akan bertindak, akan tetapi sering pula terjadi infeksi asymtomatis sehingga dapat menimbulkan bahaya latent (5).

Peranan Asam Jengkol pada Keracunan Buah Jengkol

Oen L.H.
Bagian Biokimia
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta

Keracunan jengkol atau kejengkolan merupakan salah satu sebab payah ginjal akut (acute renal failure), akan tetapi kematian yang disebabkan oleh keracunan ini jarang sekali terjadi.
Penetapan diagnosis keracunan jengkol bagi seorang dokter yang pemah melihat kasus keracunan jengkol dan pernah mencium bau khas jengkol memang tidak terlalu sulit. Anamnesa yang cukup teliti akan mengungkapkan bahwa gejalagejala keracunan timbul beberapa waktu setelah memakan buah jengkol. Pengobatannyapun tidak terlalu sulit. Dalam rumah sakit diusahakan agar diuresis dapat berlangsung kembali melalui pemberian cairan melalui infus yang dibuat sedikit alkalis dengan natrium bikarbonat.

Pengobatan dan Pencegahan Batu Saluran Kemih (BSK) Berulang

Harun Rasyid Lubis, * Rustam Effendi Ys, * Burhanuddin Nasution, **
Nurmansyah T,** Hasanui Arifin, *** Ahmad Yusuf.***
* Bagian llmu Penyakit Dalam, ** Bagian Patologi Klinik, *** Bagian Gizi
Fakultas Kedokteran USU / RS Dr. Pirngadi
Medan

PENDAHULUAN
Robertson dkk. (1) telah membuktikan di Inggris bahwa Batu Saluran Kemih (BSK) insidensnya meningkat dengan adanya peningkatan konsumsi protein hewani. Oleh karena itu besar sekali kemungkinan bahwa masalah BSK ini akan menjadi masalah yang semakin besar di Indonesia, sehubungan dengan perbaikan taraf hidup rakyat dengan adanya Program Perbaikan Gizi yang dilancarkan oleh Pemerintah. Harus pula diingat bahwa Indonesia terletak pada kelompok Negara didunia yang dilewati oleh Sabuk batu (Stone belt) (2). Telah dikemukakan pula bahwa kelompok masyarakat yang cenderung untuk memperoleh batu justru golongan masyarakat yang termasuk "elite" seperti para dokter dan para perwira angkatan bersenjata. Di antara para dokter, para ahli bedah dan anestesi dikenal mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi. (3) 
Sekitar 90% dari BSK adalah batu yang mengandung kalsium (4). Oleh karena itu banyak perhatian ditujukan kepada

Pengelolaan Penderita dengan Keluhan Hematuria

Djoko Raharjo dan Firdaoessaleh
Bagian llmu Bedah Sub. Bagian Urologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta.

PENDAHULUAN
Hematuri atau ditemukannya darah dalam urine merupakan suatu gejala yang penting dalam bidang urologi. Hematuri selalu menyebabkan penderita mencari pertolongan dokter. Seorang yang menderita hematuri harus diperiksa selengkapnya untuk mengusahakan agar penyebab dan kalau dapat lokalisasi perdarahan dapat diketahui. Apabila kita meninjau kemungkinan penyebab hematuri maka setiap penderita dengan hematuri harus kita anggap suatu keadaan yang serius.
Secara klinik hematuri dibagi menjadi 2 golongan yaitu hematuri makroskopik (= makrohematuri) dan hematuri mikroskopik (= mikrohematuri). Hematuri makroskopik ialah
kencing bercampur darah dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Makrohematuri sudah dapat terjadi apabila terdapat 1 cc darah dalam 1 liter urine. Mikrohematuri ialah hematuri yang hanya dapat dikenal dengan menggunakan mikroskop. Apabila dengan pembesaran 500 kali pada sedimen urine ditemukan lebih dari sepuluh erythrocyt maka akan memberikan test benzidin positif.

Penyakit Ginjal pada Kehamilan

Enday Sukandar
Sub. Bagian Ginjal & Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UNPAD /RS. Hasan Sadikin
Bandung.

PENDAHULUAN
Keadaan ginjal selama kehamilan harus mendapat perhatian khusus, karena terdapat perubahan-perubahan fisiologik seperti renal blood flow dan glomerulo-filtration rate, laktosuri dan glikosuri, proteinuri ortostatik, dilatasi ureter dan pelvis, retensi natrium dan air, penurunan asam urat dalam darah, dan penurunan tekanan darah pada trimester l dan II.
Selama kehamilan normal, penjernihan (clearance) ginjal lebih efektif pada posisi tiduran (supine) daripada posisi berdiri atau duduk. Bila pasien menderita sembab dan istirahat tiduran selama 24 jam, diuresis lebih efektif daripada pasien rawat jalan sekalipun dengan pemberian diuretik. Glomerulofiltration rate naik mencapai 50% dari normal pada kehamilan minggu ke-12 dan persisten sampai akhir dari kehamilannya. Renal plasma flow juga meningkat bersamaan dengan kenaikan GFR.

Pemilihan dan Dosis Obat pada Penderita Payah Ginjal

Arini Setiawati * dan Bambang Suharto **
* Bagian Farmakologi Fakultqs Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
** Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Kalbe Farma, Jakarta

PENDAHULUAN
Pemberian obat pada penderita payah ginjal dapat ditujukan pada penyakit ginjalnya maupun pada berbagai penyakit lain yang menyertai. Obat-obat yang eliminasinya terutama melalui ekskresi ginjal akan terakumulasi dengan adanya gangguan fungsi ginjal dan dapat menimbulkan efek toksik atau memperburuk keadaan ginjalnya bila aturan dosisnya tidak disesuaikan. Selain gangguan pada ekskresi obat, payah ginjal juga dapat menimbulkan gangguan/perubahan pada proses-proses farmakokinetik yang lain, yakni pada biotransformasi, distribusi, ikatan protein, dan absorpsi obat. Efek farmakodinamik obat juga dapat mengalami perubahan dengan adanya gangguan fungsi ginjal. Dialisis, yang dilakukan pada penderita payah ginjal, akan mengeliminasi berbagai jenis obat, dan mungkin juga akan mengganggu efek farmakodinamik obatobat tertentu.
Dalam makalah ini akan dibahas dasar-dasar farmakologik yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan dan penyesuaian dosis obat pada penderita payah ginjal.

PERUBAHAN—PERUBAHAN DALAM FARMAKOKINETIK
DAN FARMAKODINANIIK OBAT PADA PAYAH GINJAL

Klasifikasi Histopatologik Glomerulopati Primer

S. Himawan
Bagian Patologi Anatomik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RS.Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta.

Glomerulus memegang peranan utama dalam anatomi dan fisiologi ginjal. Dan penyakit glomeruler merupakan salah satu masalah terpenting yang dihadapi dalam bidang nefrologi.
Zaman nefrologi modern dapat dikatakan mulai pada tahun 1827, saat Richard Bright (1) menguraikan beberapa ciri penyakit ginjal. Ia sudah dapat menetapkan adanya hubungan kausal antara edema yang menyeluruh dengan berbagai kelainan anatomik tertentu pada ginjal, meskipun hanya berdasarkan pengamatan makroskopik saja. Sejak saat itu terkenal istilah " penyakit Bright", untuk menggambarkan penderita dengan hidrops, albuminuria dan kelainan anatomik pada ginjal. Adapun istilah glomerulonefritis, pertama kali digunakan oleh Klebs (2) pada tahun 1876. Ia menguraikan glomerulonefritis sebagai suatu nefritis interstisial yang mengenai jaringan interstisial glomerulus secara eksklusif. Witting (3) dan Heptinstall (4) telah membuat rangkuman daripada sejarah berbagai klasifikasi glomerulopati. Klasifikasi yang dahulu sangat banyak dianut ialah klasifikasi Volhard dan Fahr (5), yang dibuat pada tahun 1914. Secara klinik mereka membagi glomerulonefritis dalam dua golongan besar, yaitu bentuk yang difus dan yang fokal. Yang difus dibagi lagi atas 3 stadium, yaitu stadium akut, stadium kronik tanpa insufisiensi ginjal dan stadium akhir dengan insufisiensi ginjal. Sedangkan secara patologik dibagi dalam 3 golongan, yaitu glomerulonefritis

Hipertensi Renal

Made Sukahatya
Sub. Bagian Ginjal — Hipertensi Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UNAIR
Surabaya.

PENDAHULUAN
Peranan ginjal dalam terjadinya hipertensi telah dikirakan oleh R.Bright dalam tahun 1836, akan tetapi baru menjadi konsep penting setelah percobaan klasik dari Dr. Harry Goldblatt pada tahun 1934 (3, 8, 18). Untuk masa berikutnya terjadi periode kekacauan klinik tentang hubungan ginjal dan hipertensi. Ada kelompok sarjana yang berpendapat bahwa etiologi dari semua hipertensi adalah kelainan ginjal; kelompok lain berpendapat sebaliknya yaitu bahwa ginjal jarang sekali memegang peranan dalam terjadinya hipertensi.
Pada masa kini kebanyakan sarjana berpendapat bahwa antara hipertensi dan penyakit ginjal terdapat jalinan hubungan sebab-akibat yang erat sekali. Semua sebab-sebab primer dari hipertensi dapat menyebabkan kelainan ginjal akibat tingginya tekanan darah per se ; kelainan ginjal tersebut bila cukup berat, akan menyebabkan hipertensinya menetap walaupun sebab primernya dapat dihilangkan. Pemakaian obat-obat untuk menormalkan tekanan darah akan mencegah atau memperlambat kerusakan ginjal, walaupun sebab primernya tetap ada (3, 8, 12, 13, 14, 18). Sebaliknya, penyakit ginjal primer sering mengakibatkan timbulnya hipertensi.

Saturday, 25 September 2010

Penanggulangan Gagal Ginjal Kronik dan Kemajuannya

R.P. Sidabutar
Sub. Bagian Ginjal & Hipertensi Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RS Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta.

Gagal Ginjal Kronik adalah suatu kerusakan kekurangan fungsi ginjal yang hampir selalu tidak reversibel dan sebabnya bermacam-macam. Uremia adalah istilah yang sudah lama dipakai yang menggambarkan suatu gambaran klinik sebagai akibat gagal ginjal. Sebenarnya pada dewasa ini sudah dipahami bahwa retensi urea di dalam darah bukanlah penyebab utama gejala gagal ginjal, bahkan binatang percobaan yang diberi banyak urea secara intravena, tidak menunjukkan gejala-gejala uremia. Banyak istilah yang dalam bahasa Inggris dipakai untuk menggambarkan gagal ginjal, tetapi renal failure merupakan istilah yang lazim dipakai.
Penyebab Gagal Ginjal Kronik
Penyebab Gagal Ginjal Kronik dapat dibagi dua, yaitu :
1. Kelainan parenkim ginjal
a. Penyakit ginjal primer
Glomerulonefritis
Pielonefritis
Ginjal polikistik
TBC ginjal
b. Penyakit ginjal sekunder
Nefritis lupus
Nefropati analgesik
Amiloidosis ginjal
2. Penyakit ginjal obstruktip
– Pembesaran prostat batu,
– Batu saluran kencing, dll.

Anuria

J. Puji Rahard jo
Bagian llmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia /RS. Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta.

Anuria arti sesungguhnya adalah suatu keadaan dimana tidak ada produksi urine dari seorang penderita. Dalam pemakaian klinis diartikan keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam kurang dari 100 ml. Keadaan ini menggambarkan gangguan fungsi ginjal yang cukup berat dan hal ini dapat terjadi secara pelan-pelan atau yang datang secara mendadak.
Yang datang pelan-pelan umumnya menyertai gangguan ginjal kronik dan biasanya menunjukkan gangguan yang sudah lanjut. Yang timbul mendadak sebagian besar disebabkan gagal ginjal akut, yang secara klinis dipakai bersama-sama dengan keadaan yang disebut oliguria, yaitu keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam antara 100 — 400 ml. Sebab-sebab anuria/