Monday, 27 September 2010

Penanganan Sepsis

Djoko Widodo, Arya Govinda
Subbagian Penyakit Tropik Infeksi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia / RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo,
Jakarta

Abstrak
. Sepsis didefinisikan sebagai respons inflamasi sistemik karena infeksi. Respons inflamasi ini terjadi karena invasi mikroorganisme ke dalam jaringan. Angka kejadian sepsis dan komplikasinya saat ini cukup tinggi dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di unit perawatan intensif medik dan bedah. Sepsis dapat disebabkan oleh virus, kuman Gram negatif, kuman Gram positif dan jamur. Saat ini infeksi kuman Gram negatif masih merupakan penyebab utama sepsis tetapi didapatkan peningkatan infeksi kuman Gram positif dan jamur sebagai penyebab sepsis. Pada pemeriksaan mikrobiologi didapatkan tidak semua kuman dapat ditemukan dalam darah atau lokasi dugaan terjadinya infeksi. Patogenesis sepsis saat ini masih belum diketahui secara pasti, mengingat kompleksnya mekanisme melibatkan banyak mediator proinflamasi dan anti inflamasi yang saling berinteraksi satu dengan lain sehingga menyebabkan kerusakan atau disfungsi endotel. Penanganan sepsis saat ini meliputi terapi baku, kontroversial dan terapi masa depan. Terapi baku meliputi oksigenisasi (termasuk bantuan napas), resusitasi cairan (koloid dan kristaloid), eradikasi kuman penyebab (bedah dan antibiotik), vasoaktif, inotropik dan suportif lain seperti koreksi gangguan asam basa, nutrisi, regulasi gula darah, koagulasi intravaskular diseminata dan lainnya. Terapi kontroversial meliputi kortikosteroid dan antiinflamasi nonsteroid. Perkembangan kemajuan bidang kedokteran terutama berkaitan dengan pemahaman patogenesis sepsis menjadi dasar terapi masa depan seperti: antitrombin III, antibodi monoklonal (HA-1A dan E5 murine IgM antibodi), antagonis reseptor interleukin-1, antiTNF dan anti nitric oxide.

Kata kunci: Sepsis

Manajemen Pankreatitis Akut

JB Suharjo B Cahyono
Bagian Penyakit Dalam
RS RK Charitas Palembang

Abstrak. Pankreatitis akut terjadi akibat proses autodigesti jaringan pankreas oleh enzim yang dihasilkan pankreas sendiri. Patogenesis pankreatitis akut sangat kompleks dan multifaktorial. Terjadinya pankreatitis akut diawali karena adanya jejas di sel asini pankreas yang dapat disebabkan oleh karena; obstruksi duktus pankreatikus, stimulasi hormon cholecystokinin (CCK) sehingga akan mengaktivasi enzym pankreas, atau oleh karena iskemia sesaat sehingga dapat meningkatkan degradasi enzim pankreas. Sekitar 80% perjalanan klinis pankreatitis akut bersifat ringan dengan mortalitas 1%, dan sebanyak 10-20% berkembang menjadi pankreatitis akut berat dengan risiko mortalitas 20-50%. Komplikasi pankreatitis akut berat dapat bersifat lokal (abses, nekrotik, pseudocyst) atau bersifat sistemik (gagal organ multipel). Manajemen pankreatitis akut tergantung pada derajat penyakitnya. Pankreatitis akut ringan tidak perlu tindakan operatif, cukup terapi konservatif dan tidak perlu antibiotika. Sementara itu manajemen pankreatitis akut berat bersifat interdisipliner yang melibatkan intencivist, radiologist, endoscopist dan dokter bedah, dan memerlukan perawatan khusus, bila perlu di ICU, mengingat risiko terjadinya gagal organ multipel pada minggu pertama perjalanan penyakit. Terapi suportif, nutrisi enteral dan pemberian antibiotika profilaktik pada pankreatitis nekrosis akut dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. Pada saat ini terapi pankreatitis akut berat telah bergeser dari tindakan pembedahan awal ke perawatan intensif agresif. Seiring dengan kemajuan di bidang radiologi dan endoskopi, intervensi tindakan bedah dapat diminimalisasi. Tindakan bedah diindikasikan apabila ada pankreatitis nekrosis akut terinfeksi.

Kata kunci: Pankreatitis akut

Interaksi antara Antimikroba dengan Sistem Fagosit Neutrofil dan Monosit/Makrofag

I Made J
Staf Pengajar
Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Unversitas Udayana
Denpasar

Abstrak. Keefektifan suatu antimikroba dalam pengobatan penyakit infeksi tergantung dari interaksi antara bakteri, obat antimikroba dan sistem fagosit dalam tubuh. Beberapa antimikroba dilaporkan dapat menimbulkan modifikasi terhadap sistem imunitas tubuh baik secara in vitro maupun secara in vivo. Obat antimikroba akan mempengaruhi interaksi antara neutrofil dengan mikroba melalui berbagai cara, dan begitu juga sebaliknya neutrofil dapat mengganggu aktivitas antimikroba dalam tubuh. Kebanyakan antimikroba golongan 􀁅-laktam dan quinolone memiliki efek sinergis dengan sistem fagosit dalam menghancurkan kuman di dalam sel neutrofil, oleh karenanya obat tersebut disebut obat yang bersifat imunostimulator. Sebaliknya beberapa antimikroba seperti cyclins, chloramphenicol, sulfonamid dan trimethoprim dapat menekan fungsi imunitas tubuh. Beberapa antimikroba memiliki efek yang meragukan terhadap sistem imunitas.

Kata Kunci: Antimikroba, neutrofil, monosit/makrofag

Pendahuluan
Sistem imun tubuh sangat penting dalam menentukan derajat kesehatan seseorang. Menurunnya fungsi sistem tersebut akan memudahkan terjadinya penyakit infeksi dengan berbagai komplikasi. Sistem imun tubuh tersebut terdiri dari imunitas selular dan imunitas humoral. Neutrofil dan monosit/makrofag adalah bagian dari imunitas selular yang merupakan komponen utama dari sistem imun.1 Neutrofil dan monosit/makrofag sangat penting dalam proses fagosit sehingga sebagian besar kuman yang menginvasi tubuh dapat dibinasakan. Oleh karena itu, neutrofil dan monosit/makrofag disebut juga sistem fagosit yang penting dalam tubuh. Namun demikian, pada zaman sebelum ditemukan antimikroba, dengan mengandalkan sistem fagosit seperti neutrofil dan monosit/makrofag, ternyata banyak penyakit infeksi yang sulit diatasi sehingga penyakit infeksi merupakan masalah besar, pada masa tersebut.2 Dengan ditemukannya berbagai jenis antimikroba, penanganan penyakit infeksi nampaknya menjadi semakin mudah.

Hepatitis Virus

Tantur Syahdrajat
Dokter Klinik MER-C (Medical Emergancy Rescue Community)
Jakarta

Abstrak. Hepatitis adalah suatu keadaan peradangan jaringan hati, yang dapat disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Salah satu gejala yang dapat terlihat pada pasien hepatitis adalah kulit dan sklera mata menjadi berwarna kuning (ikterus). Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Virus tersebut dapat menyebabkan keadaan
hepatitis akut dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari tanpa gejala sampai gejala yang paling berat, bahkan kematian. Hepatitis A dan E tidak menyebabkan kronisitas, sebaliknya hepatitis B, C, D dapat menimbulkan keadaan infeksi yang menetap yang akan menjadi hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati.1

Kata kunci: Hepatitis virus

Pendahuluan
Hepatitis adalah suatu keadaan peradangan jaringan hati, yang dapat disebabkan oleh infeksi atau non infeksi. Salah satu gejala yang dapat terlihat pada pasien hepatitis adalah kulit dan sklera mata menjadi berwarna kuning (ikterus). Ikterus ialah suatu keadaan di mana plasma, kulit, dan selaput lendir menjadi kuning yang diakibatkan pewarnaan berlebihan oleh pigmen empedu (bilirubin). Ikterus epidemik pertama dilaporkan oleh Hippocrates. Dalam Perang Dunia ke-2 telah dilaporkan berbagai epidemi ikterus, terutama yang terjadi di Timur Tengah dan Italia.1